Sunday, March 16, 2025

Ramadhan Mubarak : Tradisi sambut Ramadhan era Walisongo Jawa.

Tradisi menyambut Ramadan pada era Walisongo di Jawa memiliki ciri khas yang unik, menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal yang sudah ada sebelumnya (Hindu-Buddha dan animisme). Walisongo, sembilan wali yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa pada abad ke-14 hingga 16, menggunakan pendekatan akulturasi untuk mempermudah penerimaan Islam oleh masyarakat Jawa. Tradisi-tradisi ini tidak hanya bertujuan menyambut bulan suci, tetapi juga sebagai sarana dakwah, mempererat komunitas, dan mempersiapkan diri secara spiritual serta fisik. Berikut adalah tradisi menyambut Ramadan pada era Walisongo di Jawa, 

1. Nyadran (Sadranan)
  • Deskripsi: Nyadran adalah tradisi ziarah kubur, pembersihan makam leluhur, dan kenduri bersama untuk mendoakan arwah yang telah meninggal. Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang Ramadan, khususnya di bulan Sya’ban atau Ruwah, sebagai wujud introspeksi dan persiapan menyambut bulan suci.
  • Sejarah dan Peran Walisongo: Awalnya, Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Buddha yang disebut Sraddha (upacara penghormatan leluhur dengan sesaji dan puji-pujian). Walisongo, seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, mengislamkan tradisi ini dengan mengganti sesaji dan mantra Hindu menjadi doa-doa Islam, seperti tahlil dan bacaan Al-Qur’an. Ini membuat masyarakat Jawa yang masih kuat dengan tradisi leluhur lebih mudah menerima Islam.
  • Pelaksanaan: Masyarakat berkumpul di makam, membersihkan batu nisan, lalu mengadakan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama. Setelah itu, ada kenduri dengan makanan seperti tumpeng sebagai simbol syukur.
  • Makna: Menyucikan hati, mengenang leluhur, dan memohon ampunan sebelum Ramadan.
  • Sumber Bacaan:
    • “Tradisi Nyadran – Budaya Menyambut Ramadan Masyarakat Islam Jawa,” Website Kalurahan Imogiri, imogiri.bantulkab.go.id (2019).
    • Buku: Islam Jawa: Akulturasi Budaya Jawa dan Islam oleh Mark Woodward (1999).

2. Padusan
  • Deskripsi: Padusan berasal dari kata “adus” (mandi dalam bahasa Jawa), yaitu tradisi mandi bersama di sumber air (sungai, mata air, atau telaga) untuk menyucikan diri menjelang Ramadan.
  • Sejarah dan Peran Walisongo: Tradisi ini merupakan adaptasi dari ritual penyucian Hindu-Buddha yang dilakukan sebelum upacara besar. Walisongo, terutama Sunan Kalijaga, memodifikasi tradisi ini sebagai simbol pembersihan jiwa dan raga agar siap menjalani ibadah puasa. Mandi ini dilakukan secara kolektif, menciptakan suasana gembira dan kebersamaan.
  • Pelaksanaan: Masyarakat berkumpul di sumber air pada hari terakhir Sya’ban, mandi bersama sambil berdoa dan bersukacita. Di beberapa tempat, seperti di Jawa Tengah, tradisi ini masih lestari hingga kini.
  • Makna: Pembersihan fisik melambangkan kesiapan spiritual menyambut Ramadan.
  • Sumber Bacaan:
    • “19 Tradisi Budaya Jawa Tengah Lengkap Beserta Gambarnya,” satrianesia.com (2020).
    • Buku: Sunan Kalijaga: Biografi dan Metode Dakwahnya oleh Agus Sunyoto (2016).

3. Kenduri atau Slametan
  • Deskripsi: Kenduri adalah tradisi makan bersama yang diadakan menjelang Ramadan, biasanya dengan menyajikan makanan simbolik seperti tumpeng, ingkung (ayam utuh), dan jenang (bubur).
  • Sejarah dan Peran Walisongo: Tradisi ini berasal dari kebiasaan Jawa pra-Islam untuk mengadakan selamatan sebagai ungkapan syukur atau doa. Walisongo memanfaatkannya sebagai sarana dakwah dengan memasukkan doa-doa Islam dan menghilangkan unsur syirik. Sunan Muria, misalnya, mengubah tumpeng yang awalnya dipersembahkan ke roh menjadi simbol kebersamaan dan syukur kepada Allah.
  • Pelaksanaan: Masyarakat duduk melingkar, mendengarkan doa yang dipimpin oleh kyai atau tokoh agama, lalu makan bersama. Makanan seperti ingkung melambangkan kekhusyukan ibadah, sedangkan tumpeng melambangkan jalan lurus menuju Allah.
  • Makna: Memperkuat silaturahmi dan memohon berkah sebelum Ramadan.
  • Sumber Bacaan:
    • “Tradisi Slametan (Wilujengan) dalam Masyarakat Agraris,” Serikat Petani Indonesia, spi.or.id (2015).
    • Buku: Tradisi Islam di Jawa oleh Clifford Geertz (terjemahan Indonesia, 1983).

4. Ziarah Makam Walisongo
  • Deskripsi: Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa mengunjungi makam para wali untuk berdoa dan mengenang jasa mereka dalam menyebarkan Islam.
  • Sejarah dan Peran Walisongo: Tradisi ini muncul setelah wafatnya para wali, terutama di masa Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati, sebagai bentuk penghormatan. Ziarah menjadi bagian dari persiapan spiritual menyambut Ramadan, mengingatkan umat akan kematian dan perjuangan dakwah.
  • Pelaksanaan: Jamaah berziarah ke makam seperti Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gresik, atau Sunan Kalijaga (Demak), membaca tahlil, dan berdoa agar diberi kekuatan menjalani puasa.
  • Makna: Refleksi diri dan penghormatan kepada para pendakwah Islam.
  • Sumber Bacaan:
    • “Tradisi Ziarah Makam Walisongo,” megapolitan.kompas.com (2011).
    • Buku: Walisongo: Penyebar Islam di Tanah Jawa oleh M. Abdul Karim (2008).

5. Bedug dan Kentongan
  • Deskripsi: Pemukulan bedug atau kentongan di masjid menandakan masuknya Ramadan, sekaligus memanggil masyarakat untuk berkumpul dan bersiap berpuasa.
  • Sejarah dan Peran Walisongo: Sunan Kudus dan Sunan Bonang mempopulerkan penggunaan bedug sebagai pengganti lonceng Hindu-Buddha. Bedug awalnya digunakan untuk mengumumkan waktu salat, tetapi kemudian menjadi tradisi menyambut Ramadan.
  • Pelaksanaan: Setelah hilal terlihat, bedug ditabuh di masjid disertai takbir, menciptakan suasana sukacita.
  • Makna: Penanda waktu syariat dan semangat kolektif menyambut bulan suci.
  • Sumber Bacaan:
    • “Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid,” nu.or.id (2017).
    • Buku: Sejarah Masjid di Indonesia oleh Abdul Baqir Zein (1999).

Perkembangan dan Pengaruh
  • Era Walisongo: Tradisi ini bersifat sederhana, fokus pada akulturasi budaya lokal dengan Islam, dan dilakukan secara kolektif oleh masyarakat agraris Jawa.
  • Sekarang: Beberapa tradisi seperti Nyadran dan Padusan masih bertahan di pedesaan Jawa Tengah dan Jawa Timur, meskipun di kota besar mulai tergeser oleh modernisasi. Ziarah makam tetap populer, terutama menjelang Ramadan 2025 (seperti sekarang, Maret 2025).
  • Pengaruh Walisongo: Pendekatan damai dan bijaksana Walisongo membuat tradisi ini diterima luas, menjadi warisan budaya Islam Nusantara yang khas.

Kesimpulan
Tradisi menyambut Ramadan era Walisongo di Jawa mencerminkan strategi dakwah yang cerdas, mengintegrasikan ajaran Islam dengan budaya Jawa tanpa menghilangkan identitas lokal. Nyadran, Padusan, Kenduri, Ziarah, dan penggunaan bedug adalah bukti nyata bagaimana Islam beradaptasi dan diterima masyarakat Jawa. Tradisi ini tidak hanya memperkaya khazanah budaya, tetapi juga memperkuat nilai spiritual dan sosial menjelang bulan suci.
Jika Anda ingin mendalami lebih lanjut, sumber bacaan di atas dapat menjadi referensi utama untuk menelusuri sejarah dan makna tradisi tersebut. Semoga bermanfaat!

No comments:

Temukan P3H

Bismillah   Rekrut Tenaga Pendamping Proses Produk Halal (P3H) Oktober 2025. Persyaratan : Min SMA/SMK, Beragama Islam, dan komitmen. Silak...