I’tikaf pada malam ke-28 Ramadan memiliki keutamaan tersendiri meskipun tidak sepopuler malam-malam ganjil seperti malam ke-27 atau ke-29 dalam konteks pencarian Lailatul Qadar. Namun, karena malam ini termasuk dalam 10 hari terakhir Ramadan, i’tikaf pada malam ke-28 tetap memiliki nilai ibadah yang tinggi dan potensi keberkahan. Berikut penjelasan rinci mengenai keutamaan i’tikaf pada malam ke-28, lengkap dengan dalil hadis dan sejarahnya.
Pengertian I’tikaf
I’tikaf adalah ibadah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, diisi dengan aktivitas seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. I’tikaf sangat dianjurkan pada 10 hari terakhir Ramadan, termasuk malam ke-28, sebagai bagian dari upaya Rasulullah SAW mencari Lailatul Qadar.
Dalil dan Keutamaan I’tikaf
Keutamaan i’tikaf didasarkan pada Al-Qur’an, hadis, dan praktik Rasulullah SAW. Berikut dalil-dalil utamanya:
- Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah sebagian dari hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu mendekati larangan itu."
(QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menegaskan bahwa i’tikaf adalah ibadah yang disyariatkan dan dilakukan di masjid, termasuk pada malam ke-28 sebagai bagian dari 10 hari terakhir Ramadan. - Hadis tentang I’tikaf Rasulullah SAW
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
"Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadan hingga wafatnya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat."
(HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)
Hadis ini menunjukkan bahwa i’tikaf pada 10 hari terakhir, termasuk malam ke-28, adalah sunnah muakkadah yang dilakukan Rasulullah SAW secara konsisten. - Hubungan dengan Lailatul Qadar
Rasulullah SAW bersabda:
"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari Ramadan."
(HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Meskipun hadis lain menyebutkan malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29) sebagai waktu yang lebih spesifik, malam ke-28 tetap termasuk dalam rentang 10 hari terakhir yang penuh keberkahan. Beberapa ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah, sehingga malam ke-28 tidak sepenuhnya tertutup dari kemungkinan tersebut. - Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadan
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
"Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya."
(HR. Muslim no. 1175)
Malam ke-28, sebagai bagian dari periode ini, memiliki keutamaan karena Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya, termasuk dengan i’tikaf. - Pahala Ibadah di Malam Ramadan
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)
I’tikaf pada malam ke-28 menjadi sarana untuk menghidupkan malam tersebut dengan ibadah, sehingga berpotensi meraih pengampunan dosa.
Sejarah I’tikaf dan Malam ke-28
Secara historis, i’tikaf menjadi tradisi Rasulullah SAW sejak Ramadan disyariatkan. Awalnya, beliau pernah beri’tikaf pada 10 hari pertama atau tengah Ramadan, tetapi setelah mendapat petunjuk bahwa Lailatul Qadar ada pada 10 hari terakhir, beliau menetapkannya pada periode tersebut.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
"Rasulullah SAW pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadan, lalu sepuluh hari pertengahan, kemudian beliau diberi tahu bahwa Lailatul Qadar ada pada sepuluh hari terakhir, maka beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir."
(HR. Muslim no. 1167)
"Rasulullah SAW pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadan, lalu sepuluh hari pertengahan, kemudian beliau diberi tahu bahwa Lailatul Qadar ada pada sepuluh hari terakhir, maka beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir."
(HR. Muslim no. 1167)
Pada tahun terakhir hidupnya, Rasulullah SAW bahkan memperpanjang i’tikaf menjadi 20 hari untuk memaksimalkan ibadah (HR. Bukhari no. 2044). Tradisi ini diteruskan oleh para sahabat dan umat Islam hingga kini. Meskipun malam ke-28 tidak disebut secara spesifik dalam hadis sebagai malam Lailatul Qadar, malam ini tetap menjadi bagian dari periode yang disunnahkan untuk i’tikaf.
Malam ke-28 dalam Konteks Sejarah:
Malam ke-28 tidak memiliki riwayat spesifik yang menonjol dibandingkan malam ganjil seperti ke-27 atau ke-29. Namun, karena termasuk dalam 10 hari terakhir, malam ini tetap dianggap mulia. Beberapa ulama, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menyatakan bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam genap maupun ganjil dalam 10 hari terakhir, tergantung kehendak Allah SWT, sehingga malam ke-28 tetap memiliki potensi keistimewaan.
Malam ke-28 tidak memiliki riwayat spesifik yang menonjol dibandingkan malam ganjil seperti ke-27 atau ke-29. Namun, karena termasuk dalam 10 hari terakhir, malam ini tetap dianggap mulia. Beberapa ulama, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, menyatakan bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam genap maupun ganjil dalam 10 hari terakhir, tergantung kehendak Allah SWT, sehingga malam ke-28 tetap memiliki potensi keistimewaan.
Keutamaan Khusus I’tikaf pada Malam ke-28
- Bagian dari 10 Hari Terakhir
Malam ke-28 termasuk dalam periode yang sangat dimuliakan dalam Islam. Rasulullah SAW meningkatkan ibadahnya pada waktu ini, dan i’tikaf menjadi salah satu cara untuk mengisi malam tersebut dengan ketaatan. - Potensi Lailatul Qadar
Meskipun malam ganjil lebih sering disebut, beberapa pendapat ulama, seperti Imam Malik dan sebagian tabi’in, menyatakan bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam genap, termasuk malam ke-28, berdasarkan variasi riwayat dan tanda-tanda yang diamati. Dengan i’tikaf, seseorang tetap berpeluang mendapatkan malam kemuliaan tersebut. - Meneladani Rasulullah SAW
I’tikaf pada malam ke-28 adalah bentuk ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah SAW yang selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan. Ini menunjukkan kesungguhan dalam mencari keberkahan, meskipun malamnya genap. - Fokus pada Ibadah
Dengan berdiam di masjid, seorang muk’tikif dapat menjauhkan diri dari urusan duniawi dan fokus pada shalat sunnah (tahajud, witir), dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Malam ke-28 menjadi waktu yang strategis karena mendekati akhir Ramadan, di mana semangat ibadah biasanya semakin meningkat. - Kedekatan dengan Allah SWT
I’tikaf menciptakan suasana khusyuk dan ketenangan batin, memungkinkan seseorang untuk memperdalam hubungan spiritual dengan Allah, terutama pada malam-malam terakhir Ramadan yang penuh ampunan.
Cara Melaksanakan I’tikaf pada Malam ke-28
- Niat: Berniat dalam hati untuk i’tikaf demi mendekatkan diri kepada Allah. Contoh: "Nawaitu a‘takifa fī hādzihil masjid lillāhi ta‘ālā" (Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah Ta’ala).
- Waktu: Mulai setelah shalat Magrib pada tanggal 27 Ramadan hingga fajar tanggal 28 Ramadan (jika hanya satu malam), atau bisa diperpanjang selama 10 hari terakhir.
- Tempat: Dilakukan di masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah.
- Aktivitas: Mengisi waktu dengan shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan berdoa, termasuk doa khusus Lailatul Qadar: "Allahumma innaka ‘afuwwun tuḥibb al-‘afwa fa‘fu ‘annī" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan, maka ampunilah aku) (HR. Tirmidzi no. 3513).
Kesimpulan
I’tikaf pada malam ke-28 Ramadan memiliki keutamaan besar karena termasuk dalam 10 hari terakhir Ramadan, periode yang sangat dimuliakan dalam Islam. Meskipun tidak sepopuler malam ganjil dalam konteks Lailatul Qadar, malam ke-28 tetap memiliki potensi keberkahan dan menjadi bagian dari sunnah Rasulullah SAW yang konsisten beri’tikaf pada waktu ini. Dalilnya jelas dari Al-Qur’an dan hadis, serta diperkuat oleh sejarah praktik Nabi dan sahabat. Keutamaannya meliputi kesempatan meneladani Nabi, fokus beribadah, dan meraih ampunan Allah SWT. Oleh karena itu, i’tikaf pada malam ke-28 sangat dianjurkan sebagai bentuk ketaatan dan harapan akan rahmat Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
sumber : Grok, https://basajan.net/hikmah-itikaf/
No comments:
Post a Comment