Membangunkan sahur pada era Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan cara yang sederhana, sesuai dengan kondisi masyarakat Arab saat itu yang belum mengenal teknologi modern. Kegiatan ini merupakan bagian dari sunnah Rasulullah SAW untuk memastikan umat Islam tidak melewatkan waktu sahur, yang memiliki keutamaan besar dalam ibadah puasa. Berikut adalah penjelasan tentang bagaimana tradisi membangunkan sahur dilakukan pada masa Nabi SAW, berdasarkan riwayat sejarah dan hadis:
- Secara Langsung oleh Rasulullah SAW atau Sahabat:
- Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW dan para sahabat membangunkan sahur dengan cara langsung, yaitu dengan memanggil atau mengetuk pintu rumah-rumah kaum muslimin. Salah satu sahabat yang ditugaskan untuk ini adalah Bilal bin Rabah RA, yang dikenal sebagai muazin pertama.
- Riwayat: Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Bilal pernah mengumandangkan adzan sebelum fajar untuk mengingatkan umat agar bersiap sahur. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan." (HR. Bukhari no. 1919 dan Muslim no. 1092).
- Penjelasan: Adzan Bilal ini bukan penanda masuk waktu Subuh, tetapi pengingat untuk sahur. Ibnu Ummi Maktum, yang juga muazin, kemudian mengumandangkan adzan kedua saat fajar tiba, menandakan waktu imsak.
- Pemanggilan Verbal di Permukiman:
- Masyarakat Madinah hidup dalam komunitas yang erat, dengan rumah-rumah berdempetan. Para sahabat sering kali berkeliling sambil berseru, seperti "Bangunlah untuk sahur!" atau menyebutkan kalimat yang membangkitkan semangat ibadah.
- Sejarah: Tidak ada alat khusus seperti drum atau kentongan pada masa itu. Suara manusia menjadi alat utama, mengingat Masjid Nabawi masih sederhana (dibangun dari pelepah kurma dan lumpur) dan belum memiliki menara tinggi seperti masjid modern.
- Dalil Hadis:
- Rasulullah SAW sangat menganjurkan sahur, bahkan menyebutnya sebagai pembeda antara puasa umat Islam dan puasa umat lain. Beliau bersabda: "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).
- Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur." (HR. Muslim no. 1096).
- Makna: Karena keutamaan ini, Rasulullah SAW dan para sahabat memastikan umat tidak ketinggalan sahur, sehingga tradisi membangunkan menjadi penting.
- Praktik Nabi SAW:
- Rasulullah SAW sendiri mencontohkan sahur dengan sederhana, seperti makan kurma dan minum air. Beliau sering membangunkan keluarganya, seperti Aisyah RA dan istri-istri lainnya, untuk makan sahur bersama.
- Masyarakat Sederhana:
- Pada era Nabi SAW (awal abad ke-7 Masehi), masyarakat Madinah hidup dalam komunitas kecil. Tidak ada alat musik atau lonceng seperti di era modern untuk membangunkan orang. Mereka mengandalkan suara manusia dan komunikasi langsung.
- Contoh: Jika seseorang terbangun untuk sahur, ia biasanya membangunkan tetangga terdekat, sehingga informasi menyebar dari mulut ke mulut.
- Peran Muazin:
- Bilal bin Rabah RA memainkan peran besar dengan suaranya yang lantang. Adzan malamnya menjadi tanda bagi masyarakat untuk bangun, menyiapkan makanan, dan bersiap puasa.
- Masa Kekhalifahan: Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tradisi membangunkan sahur mulai berkembang. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, misalnya, petugas khusus ditunjuk untuk berkeliling kota sambil berseru mengingatkan sahur.
- Pengaruh Budaya Lokal: Di luar Arab, seperti di Nusantara pada era Walisongo, tradisi ini berkembang dengan kentongan atau bedug, tetapi pada masa Nabi SAW, cara ini belum ada.
- Menggunakan suara manusia, baik oleh Rasulullah SAW, sahabat seperti Bilal, atau anggota komunitas.
- Adzan pertama oleh Bilal RA menjadi penanda waktu sahur, diikuti adzan Subuh oleh Ibnu Ummi Maktum RA sebagai tanda imsak.
- Tidak ada alat khusus, melainkan mengandalkan kebersamaan dan semangat jamaah.

No comments:
Post a Comment