Dalam ajaran Islam, menjaga lisan selama berpuasa Ramadhan memiliki pentingnya yang sangat besar karena puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, termasuk perkataan. Lisan yang tidak dijaga dapat mengurangi pahala puasa bahkan membatalkan nilai spiritualnya. Pentingnya menjaga lisan ini didasarkan pada Al-Qur'an, hadis-hadis sahih, serta ajaran Rasulullah SAW yang menekankan bahwa puasa adalah ibadah holistik yang mencakup perilaku dan perkataan. Berikut penjelasan rinci dan lengkap beserta dalil-dalil serta sanad hadis yang meriwayatkannya.
- Puasa Sebagai Perisai (Junnah)
Puasa bertujuan melindungi seorang Muslim dari dosa dan perbuatan yang tidak diridai Allah SWT, termasuk perkataan buruk. Jika lisan tidak dijaga, maka fungsi puasa sebagai perisai menjadi lemah.- Hadis: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa itu adalah perisai, maka janganlah seseorang berbicara dengan kata-kata kotor (rafats) dan jangan pula bertindak bodoh (jahil). Jika seseorang memaki atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia katakan, 'Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.'"
(HR. Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151).
Sanad: Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA melalui jalur perawi seperti Ibrahim bin Al-Mundzir kepada Imam Bukhari, dan dari Abu Hurairah melalui Sufyan bin Uyainah kepada Imam Muslim. Hadis ini menegaskan bahwa menjaga lisan dari kata-kata kotor, makian, atau pertengkaran adalah bagian integral dari puasa.
- Pahala Puasa Bisa Hilang karena Lisan
Perkataan yang buruk seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), atau dusta dapat menghapus pahala puasa. Rasulullah SAW menekankan bahwa puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga tanpa menjaga perilaku tidak diterima secara sempurna.- Hadis: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga."
(HR. Ahmad No. 8856, Ibnu Majah No. 1690, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Sanad: Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA melalui jalur perawi seperti Abu Zinad kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Hadis ini menunjukkan bahwa puasa yang tidak disertai pengendalian lisan dan perilaku tidak memberikan manfaat spiritual penuh.
- Lisan yang Tidak Dijaga Membatalkan Hakikat Puasa
Puasa bukan hanya kewajiban fisik, tetapi juga latihan untuk mencapai ketakwaan (Al-Baqarah: 183). Jika seseorang berpuasa tetapi lisannya digunakan untuk menyakiti orang lain, maka hakikat puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah menjadi rusak.- Hadis: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah puasa itu hanya menahan makan dan minum, tetapi puasa itu adalah menahan diri dari perkataan sia-sia (laghw) dan kata-kata kotor (rafats)."
(HR. Ibnu Hibban No. 3529, dinilai sahih oleh Al-Albani).
Sanad: Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA melalui jalur perawi seperti Abdullah bin Yazid kepada Ibnu Hibban. Hadis ini mempertegas bahwa menjaga lisan adalah syarat utama kesempurnaan puasa.
- Menjaga Lisan sebagai Bentuk Ibadah Tambahan
Bulan Ramadhan adalah waktu untuk melipatgandakan amal ibadah. Menahan lisan dari perkataan buruk adalah ibadah yang memperkuat nilai puasa dan menambah pahala.- Hadis: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari No. 38 dan Muslim No. 760).
Sanad: Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA melalui jalur sahih kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Meskipun hadis ini tidak secara langsung menyebut lisan, keimanan dan harapan pahala mencakup menjaga lisan agar puasa diterima.
- Hubungan Lisan dengan Hati
Lisan mencerminkan kondisi hati. Jika lisan tidak dijaga selama puasa, itu menunjukkan bahwa hati belum sepenuhnya bersih, padahal Ramadhan adalah waktu untuk menyucikan hati.- Hadis: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh; ketahuilah, itu adalah hati."
(HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599).
Sanad: Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA melalui jalur perawi seperti Muhammad bin Amr kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadis ini mengisyaratkan bahwa menjaga lisan selama puasa adalah cerminan hati yang baik.
- Menghindari Ghibah: Menggunjing orang lain, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an (Surah Al-Hujurat: 12) dan hadis.
- Menahan Diri dari Makian: Bahkan saat diprovokasi, seorang yang berpuasa dianjurkan untuk diam atau mengatakan, "Aku sedang berpuasa."
- Menjauhi Dusta: Kebohongan adalah perbuatan yang bertentangan dengan esensi puasa.
- Mengelak dari Perdebatan Sia-Sia: Perkataan yang tidak bermanfaat harus dihindari agar puasa tetap bernilai.
- Surah Al-Hujurat (49): 11-12:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain… dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk… dan janganlah kamu cari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain."
Ayat ini menegaskan larangan menggunakan lisan untuk perbuatan buruk, yang menjadi lebih krusial selama Ramadhan.
- Melindungi Pahala Puasa: Lisan yang tidak dijaga dapat menghapus pahala, bahkan jika seseorang menahan lapar dan dahaga.
- Mencerminkan Ketakwaan: Puasa bertujuan mencapai ketakwaan, yang tidak mungkin tercapai tanpa pengendalian lisan.
- Sebagai Perisai Dosa: Menjaga lisan menjadikan puasa sebagai tameng dari perbuatan maksiat.
- Menyucikan Hati: Lisan yang terjaga mencerminkan hati yang bersih, sesuai dengan tujuan spiritual Ramadhan.
- Meningkatkan Kualitas Ibadah: Puasa yang sempurna adalah yang disertai dengan perkataan yang baik dan bermanfaat.

No comments:
Post a Comment