Dalam ajaran Islam, membaca dan mendengarkan Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia dan mendatangkan banyak keutamaan. Hal ini didukung oleh berbagai hadis shahih yang menjelaskan pahala, keberkahan, dan manfaat spiritual bagi orang yang melakukannya.
1. Kedudukan Orang yang Membaca Al-Qur’an
a. Pahala Berlipat Ganda
Hadis Shahih:
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."
- Sumber: Sunan At-Tirmidzi, Kitab Fadhail Al-Qur’an, No. 2910; dinilai shahih oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani.
- Sanad: Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi melalui jalur:
- Qutaibah bin Sa’id, dari Al-Laits bin Sa’ad, dari Ziyadah bin Muhammad, dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi, dari Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih karena semua perawi dalam rantai ini adalah tsiqah (terpercaya) dan dikenal dalam ilmu hadis.
Penjelasan:
Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca memberikan pahala minimal sepuluh kali lipat. Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an, bahkan untuk huruf-huruf yang sederhana sekalipun.
Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca memberikan pahala minimal sepuluh kali lipat. Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan membaca Al-Qur’an, bahkan untuk huruf-huruf yang sederhana sekalipun.
b. Mendapatkan Syafaat pada Hari Kiamat
Hadis Shahih:
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya."
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya."
- Sumber: Shahih Muslim, Kitab Shalat Al-Musafirin, No. 804.
- Sanad: Diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalur:
- Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Yahya bin Sa’id, dari Sufyan Ats-Tsauri, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Umamah, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih mutawatir karena semua perawi adalah ulama besar yang sangat terpercaya.
Penjelasan:
Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi orang yang membacanya di dunia. Pada hari kiamat, Al-Qur’an akan memohon syafaat kepada Allah agar pembacanya mendapatkan ampunan dan kebaikan.
Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi orang yang membacanya di dunia. Pada hari kiamat, Al-Qur’an akan memohon syafaat kepada Allah agar pembacanya mendapatkan ampunan dan kebaikan.
c. Derajat yang Tinggi di Surga
Hadis Shahih:
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda:
"Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah (ke derajat yang lebih tinggi), serta tartilkan sebagaimana kamu mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya tempatmu (di surga) adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.’"
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda:
"Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: ‘Bacalah dan naiklah (ke derajat yang lebih tinggi), serta tartilkan sebagaimana kamu mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya tempatmu (di surga) adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.’"
- Sumber: Sunan Abu Dawud, No. 1464; Sunan At-Tirmidzi, No. 2914; dinilai shahih oleh Al-Albani.
- Sanad: Diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui jalur:
- Ahmad bin Yunus, dari Zuhair bin Mu’awiyah, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir bin Samurah, dari Abdullah bin Amr, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih karena perawinya terpercaya dan dikenal dalam riwayat hadis.
Penjelasan:
Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan tartil akan mendapatkan derajat di surga sesuai dengan ayat terakhir yang dibacanya. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan penuh perhatian dan penghayatan meningkatkan kedudukan seseorang di akhirat.
Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan tartil akan mendapatkan derajat di surga sesuai dengan ayat terakhir yang dibacanya. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan penuh perhatian dan penghayatan meningkatkan kedudukan seseorang di akhirat.
2. Kedudukan Orang yang Mendengarkan Al-Qur’an
a. Mendapatkan Kebaikan dan Ketenteraman
Hadis Shahih:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."
- Sumber: Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr wa Ad-Du’a, No. 2699.
- Sanad: Diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur:
- Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Al-Ala’ bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih dan kuat karena perawinya adalah tokoh-tokoh besar dalam ilmu hadis.
Penjelasan:
Mendengarkan Al-Qur’an, terutama dalam majelis ilmu atau saat dibaca dengan tartil, mendatangkan ketenangan jiwa, rahmat Allah, dan kehadiran malaikat. Ini menunjukkan bahwa pendengar Al-Qur’an juga mendapatkan keutamaan besar, terutama jika ia mendengarkan dengan khusyuk.
Mendengarkan Al-Qur’an, terutama dalam majelis ilmu atau saat dibaca dengan tartil, mendatangkan ketenangan jiwa, rahmat Allah, dan kehadiran malaikat. Ini menunjukkan bahwa pendengar Al-Qur’an juga mendapatkan keutamaan besar, terutama jika ia mendengarkan dengan khusyuk.
b. Perintah untuk Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh
Dalil Al-Qur’an:
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf (7): 204:
"Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf (7): 204:
"Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."
Hadis Pendukung:
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
"Rasulullah SAW memintaku untuk membaca Al-Qur’an kepadanya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al-Qur’an kepadamu padahal ia diturunkan kepadamu?’ Beliau bersabda, ‘Aku senang mendengarnya dari orang lain.’ Maka aku membacakan Surah An-Nisa hingga sampai pada ayat, ‘Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, dan Kami jadikan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.’ (QS. An-Nisa: 41). Beliau berkata, ‘Cukup.’ Aku menoleh kepadanya, ternyata matanya penuh dengan air mata."
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
"Rasulullah SAW memintaku untuk membaca Al-Qur’an kepadanya. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al-Qur’an kepadamu padahal ia diturunkan kepadamu?’ Beliau bersabda, ‘Aku senang mendengarnya dari orang lain.’ Maka aku membacakan Surah An-Nisa hingga sampai pada ayat, ‘Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, dan Kami jadikan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.’ (QS. An-Nisa: 41). Beliau berkata, ‘Cukup.’ Aku menoleh kepadanya, ternyata matanya penuh dengan air mata."
- Sumber: Shahih Bukhari, Kitab Fadhail Al-Qur’an, No. 5050; Shahih Muslim, No. 800.
- Sanad: Diriwayatkan oleh Bukhari melalui jalur:
- Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Yahya bin Sa’id, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik dan Ibnu Mas’ud, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih dan mutawatir.
Penjelasan:
Hadis ini menunjukkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh perhatian dan kekhusyukan adalah sunnah Rasulullah SAW. Bahkan Nabi SAW sendiri menangis saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, menunjukkan betapa besar dampaknya bagi hati yang hidup.
Hadis ini menunjukkan bahwa mendengarkan Al-Qur’an dengan penuh perhatian dan kekhusyukan adalah sunnah Rasulullah SAW. Bahkan Nabi SAW sendiri menangis saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, menunjukkan betapa besar dampaknya bagi hati yang hidup.
3. Kedudukan Orang yang Membaca dan Mendengarkan Sekaligus
a. Keutamaan Membaca dan Memahami
Hadis Shahih:
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya."
Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya."
- Sumber: Shahih Bukhari, Kitab Fadhail Al-Qur’an, No. 5027.
- Sanad: Diriwayatkan oleh Bukhari melalui jalur:
- Muhammad bin Al-Mutsanna, dari Yahya bin Sa’id, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Utsman bin Affan, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih dan kuat.
Penjelasan:
Orang yang membaca Al-Qur’an, memahaminya, dan mengajarkannya kepada orang lain (termasuk mendengarkan dan mengamalkan) memiliki kedudukan tertinggi di antara umat Islam. Ini mencakup proses membaca dan mendengarkan secara aktif.
Orang yang membaca Al-Qur’an, memahaminya, dan mengajarkannya kepada orang lain (termasuk mendengarkan dan mengamalkan) memiliki kedudukan tertinggi di antara umat Islam. Ini mencakup proses membaca dan mendengarkan secara aktif.
b. Keberkahan di Dunia dan Akhirat
Hadis Shahih:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala."
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala."
- Sumber: Shahih Bukhari, Kitab Fadhail Al-Qur’an, No. 4937; Shahih Muslim, No. 798.
- Sanad: Diriwayatkan oleh Bukhari melalui jalur:
- Abdullah bin Yusuf, dari Malik bin Anas, dari Abdurrahman bin Al-Qasim, dari ayahnya, dari Aisyah, dari Nabi SAW.
Sanad ini shahih dan sangat kuat.
Penjelasan:
Orang yang mahir membaca Al-Qur’an mendapat tempat mulia bersama malaikat, sedangkan yang membaca dengan susah payah tetap mendapat pahala ganda karena usahanya. Ini menunjukkan bahwa proses membaca dan mendengarkan Al-Qur’an selalu mendatangkan kebaikan.
Orang yang mahir membaca Al-Qur’an mendapat tempat mulia bersama malaikat, sedangkan yang membaca dengan susah payah tetap mendapat pahala ganda karena usahanya. Ini menunjukkan bahwa proses membaca dan mendengarkan Al-Qur’an selalu mendatangkan kebaikan.
Kesimpulan
- Orang yang Membaca Al-Qur’an:
- Mendapat pahala berlipat per huruf.
- Mendapat syafaat pada hari kiamat.
- Dinaikkan derajatnya di surga sesuai bacaan terakhirnya.
- Orang yang Mendengarkan Al-Qur’an:
- Mendapat ketenangan, rahmat, dan kehadiran malaikat.
- Dianjurkan mendengar dengan khusyuk sebagai bentuk ibadah.
- Orang yang Membaca dan Mendengarkan Sekaligus:
- Termasuk sebaik-baik manusia jika mempelajari dan mengajarkannya.
- Mendapat kedudukan mulia di dunia dan akhirat.
Sumber Bacaan Tambahan
- Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (referensi utama hadis shahih).
- Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Abu Dawud (dengan penilaian shahih).
- Fadhail Al-Qur’an karya Al-Hafizh Ibnu Hajar atau Al-Qurtubi.

No comments:
Post a Comment