Siswa SMA Negeri 1 Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar), gagal mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2025 karena kelalaian pihak sekolah dalam menginput data ke Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Kronologi kejadian ini dimulai pada periode penginputan data PDSS yang berlangsung dari Desember 2024 hingga 31 Januari 2025. Pada waktu itu, sekolah diharapkan untuk menyelesaikan pengisian data siswa yang memenuhi syarat untuk ikut SNBP. Namun, SMAN 1 Mempawah tidak menyelesaikan tugas ini tepat waktu, yang menyebabkan ratusan siswa terancam kehilangan kesempatan untuk mendaftar kuliah melalui jalur prestasi.
Kepala Sekolah SMAN 1 Mempawah, Endang Superi Wahyudi, mengakui bahwa terjadi keterlambatan dalam finalisasi data siswa. Dia menyebutkan bahwa ada kendala teknis dan masalah waktu yang menghambat proses tersebut. Meskipun ada perpanjangan waktu dua hari yang diberikan oleh panitia pusat, hal ini tidak cukup untuk menyelesaikan input data yang tertunda. Akibatnya, data siswa tidak bisa dimasukkan ke dalam sistem SNBP, yang berarti siswa tersebut tidak memiliki akses untuk mendaftar.
Dampak psikologis dari kejadian ini sangat signifikan. Siswa yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk meraih nilai tinggi demi bisa mengikuti SNBP mengalami kekecewaan yang mendalam. Banyak di antara mereka yang merasa masa depan pendidikan mereka terancam, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Kehilangan kesempatan untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tanpa biaya melalui jalur prestasi bisa dianggap sebagai kerugian besar yang mempengaruhi motivasi akademik dan emosi mereka.
Reaksi siswa dan orang tua cukup intens. Mereka menggelar aksi demonstrasi di lingkungan sekolah, menuntut pertanggungjawaban dari pihak sekolah. Rasa kecewa dan frustrasi mereka tercermin dalam gerakan protes yang melibatkan siswa mengenakan pakaian hitam dan membawa poster-poster kritik. Orang tua juga ikut menuntut keadilan, menuntut oknum guru yang dianggap lalai untuk bertanggung jawab atas kesalahan administratif ini.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalbar merespons dengan cepat. Mereka memanggil Kepala Sekolah, Wakil Kepala Kurikulum, dan Tim PDSS untuk klarifikasi dan memberikan teguran tertulis. Disdikbud juga mencoba mencari solusi dengan menawarkan koordinasi langsung dengan Kemendikdasmen RI untuk mencari jalan keluar, meskipun portal SNPMB sudah ditutup sesuai jadwal pada 31 Januari 2025.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti memberikan penjelasan bahwa ada sekolah yang belum bisa menginput data karena faktor kerusakan perangkat akibat cuaca dan bencana alam. Namun, dalam kasus SMAN 1 Mempawah, penyebabnya lebih kepada kelalaian administrasi. Panitia SNPMB memberikan kesempatan kepada 373 sekolah, termasuk SMAN 1 Mempawah, untuk memfinalisasi data siswa yang eligible, dengan syarat mengirimkan dokumen pernyataan surat kuasa ke Panitia SNPMB.
Pihak sekolah juga menawarkan solusi kepada siswa dan orang tua dengan memberikan bimbingan belajar gratis selama tiga bulan untuk persiapan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Namun, ini tidak sepenuhnya memuaskan siswa dan orang tua karena mereka merasa solusi tersebut tidak sebanding dengan kesempatan yang telah hilang.
Aspek psikologis lainnya yang muncul adalah rasa ketidakadilan dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem pendidikan. Siswa yang telah berkomitmen untuk mencapai prestasi akademik merasa dikhianati oleh sistem yang seharusnya mendukung mereka. Hal ini bisa menyebabkan rasa skeptis terhadap institusi pendidikan dan mungkin mempengaruhi partisipasi mereka dalam kegiatan akademik di masa depan.
Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, juga angkat bicara, mengharapkan ada 'win-win solution' dari Disdikbud Kalbar dan Kemendikti untuk memperjuangkan hak siswa. Dia menyoroti bahwa kasus ini terjadi di tengah bencana banjir yang mungkin juga berkontribusi pada miskomunikasi dan kelalaian.
Keseluruhan, kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak di bidang pendidikan untuk lebih teliti dan bertanggung jawab dalam menangani data akademik siswa. Bagi siswa, ini adalah pukulan keras yang menguji ketahanan mental dan semangat mereka untuk terus berusaha mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi meski dihadapkan dengan rintangan yang tidak terduga.
foto : mempawahnews
No comments:
Post a Comment