Agresi Militer Belanda I adalah operasi militer Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Berikut sejarah Agresi Militer Belanda I.(Foto: National Museum van Wereldculturen/C.J. Taillie via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Agresi Militer Belanda I, juga dikenal sebagai Operatie Product oleh Belanda, adalah serangan yang dilakukan oleh Belanda terhadap Republik Indonesia dari 21 Juli hingga 5 Agustus 1947. Berikut adalah kronologi, latar belakang, dan sumber bacaan serta reaksi dunia terhadap agresi ini:
Kronologi:
- Proklamasi Kemerdekaan: Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia II. Belanda, yang sebelumnya menjajah Indonesia, tidak menerima proklamasi ini dan berusaha kembali menguasai wilayah Indonesia.
- Perjanjian Linggarjati: Pada 25 Maret 1947, Indonesia dan Belanda menandatangani Perjanjian Linggarjati yang menetapkan bahwa Indonesia akan memiliki status kebebasan terbatas dalam konfederasi. Namun, interpretasi terhadap perjanjian ini berbeda antara kedua belah pihak.
- Ultimatum Belanda: Tanggal 3 Juni 1947, Belanda mengeluarkan ultimatum yang menuntut Indonesia untuk mundur dari beberapa wilayah dan membatasi aktivitas militer. Indonesia menolak ultimatum tersebut, yang menyebabkan ketegangan meningkat.
- Pengumuman Operasi: Letnan Gubernur Jenderal Johannes van Mook pada 20 Juli 1947 mengumumkan bahwa Belanda tidak lagi merasa terikat oleh Perjanjian Linggarjati, mengawali serangan pada hari berikutnya.
- Serangan Militer: Agresi Militer Belanda I dimulai pada 21 Juli 1947 dengan serangan terhadap Jawa dan Sumatera. Belanda mencoba merebut daerah-daerah strategis seperti kota pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan untuk mendukung ekonomi mereka.
- Resistensi Indonesia: Tentara Republik Indonesia (TNI) dan rakyat Indonesia memberikan perlawanan yang kuat, meski dengan keterbatasan senjata dan pasukan. Wilayah-wilayah penting seperti Yogyakarta tetap dipertahankan dari serangan udara Belanda.
- Penyerangan Pesawat RI: Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik Indonesia yang membawa bantuan medis ditembak jatuh oleh Belanda, menyebabkan kematian beberapa tokoh penting termasuk Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto.
Latar Belakang:
- Kekalahan Belanda dalam Perang Dunia II: Setelah kalah dari Jepang, Belanda mencari cara untuk memulihkan ekonominya yang terpuruk melalui eksploitasi sumber daya alam Indonesia.
- Pengaruh Sekutu: Belanda kembali ke Indonesia dengan bantuan pasukan Sekutu, khususnya Inggris, yang menguasai wilayah-wilayah tertentu di Indonesia pada awal pasca-Perang Dunia II.
- Pidato Ratu Wilhelmina: Pidato Ratu Wilhelmina pada 7 Desember 1942 yang menyebutkan tentang persemakmuran antara Belanda dan Indonesia di bawah naungan Belanda, disalahgunakan Belanda untuk membenarkan agresi militer mereka.
- Konflik Interpretasi: Belanda memiliki interpretasi sendiri terhadap Perjanjian Linggarjati, yang mereka gunakan sebagai alasan untuk melakukan serangan militer.
Sumber Bacaan:
- Buku Sejarah: Buku seperti "Agresi Militer Belanda Memperebutkan Pending Zamrud Sepanjang Khatulistiwa 1945-1949" oleh Pierre Heijboer memberikan pandangan mendalam tentang konflik ini.
- Riset Akademik: Skripsi dan riset seperti "Perjuangan Jalur Diplomasi: Sejarah Perundingan Linggarjati 1946-1949" oleh Abdul Majid memberikan analisis akademis.
- Sumber Online: Artikel dari situs seperti Tirto.id dan Katadata.co.id memberikan informasi terkini dan analisis sejarah dengan perspektif modern.
Reaksi Dunia:
- Kecaman Internasional: Agresi militer ini mendapat kecaman dari banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, yang khawatir akan dampak politik dan ekonomi dari konflik ini.
- Intervensi PBB: Pada 31 Juli 1947, atas permintaan India dan Australia, masalah ini dibawa ke Dewan Keamanan PBB. PBB mengeluarkan resolusi pada 1 Agustus 1947 yang meminta penghentian konflik.
- Komisi Tiga Negara: PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari Amerika Serikat, Belgia, dan Australia untuk memediasi konflik ini, menghasilkan Perjanjian Renville yang sementara mengakhiri agresi.
- Dampak Internasional: Agresi ini tidak hanya menarik perhatian dunia internasional tetapi juga memperkuat solidaritas terhadap kemerdekaan Indonesia dari berbagai negara yang menentang kolonialisme.
- Media dan Propaganda: Media internasional meliput konflik ini dengan berbagai perspektif, mempengaruhi opini publik dunia terhadap Belanda dan Indonesia. Propaganda dari kedua belah pihak juga berkembang pesat.
- Efek Jangka Panjang: Agresi ini menjadi titik balik dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, mempercepat proses pengakuan internasional terhadap kedaulatan Indonesia dan mengarah pada perundingan lebih lanjut yang menyebabkan pengakuan kemerdekaan pada 1949.
Dengan demikian, agresi militer ini tidak hanya mempengaruhi hubungan Indonesia-Belanda tetapi juga memainkan peran penting dalam politik internasional pasca-Perang Dunia II.
No comments:
Post a Comment