Dalam sejarah pendidikan Indonesia sejak pasca Kemerdekaan pada saat memasuki Ramadhan setiap tahun sekolah semua jenjang selalu diliburkan. Alasannya memberikan kesempatan kepada murid agar fokus beribadah. Tapi itu mungkin saja tidak berlaku dalam benak pejabat kemendikbud lainnya.
Daoed Joesoef, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari tahun 1978 hingga 1983, memiliki latar belakang yang kompleks yang mempengaruhi kebijakan pendidikannya, termasuk keputusan untuk memasukkan bulan Ramadan ke dalam kalender akademik sekolah. Dari aspek politik, kebijakan ini dapat dilihat sebagai bagian dari strategi pemerintahan Orde Baru untuk memperkuat kontrol dan pengaruh atas masyarakat. Pada masa itu, pendidikan digunakan sebagai alat untuk mengonsolidasikan ideologi Pancasila dan menjauhkan pengaruh politik dari kampus, seperti yang terlihat dengan implementasi NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan Ramadhan di sekolah bisa dianggap sebagai langkah untuk menunjukkan kesetiaan pemerintah terhadap nilai-nilai Islam tanpa mengorbankan kontrol politik atas institusi pendidikan.
Secara ekonomi, keputusan untuk menyesuaikan kalender pendidikan dengan Ramadan mungkin juga dipengaruhi oleh kebutuhan untuk memastikan bahwa aktivitas pendidikan tidak terganggu secara signifikan oleh penyesuaian jadwal yang diperlukan selama bulan suci. Dengan mengintegrasikan Ramadan ke dalam kalender akademik, sekolah bisa lebih efisien dalam mengatur waktu belajar dan libur, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi kinerja siswa serta efisiensi operasional sekolah. Ini juga membantu meminimalkan gangguan pada produktivitas ekonomi yang mungkin timbul dari penyesuaian ad hoc setiap tahunnya.
Dari aspek sosial, kebijakan ini bisa dilihat sebagai upaya untuk memfasilitasi integrasi sosial dan kebersamaan di kalangan siswa yang beragam. Dengan memasukkan Ramadan ke dalam kalender akademik, sekolah dapat mempromosikan pemahaman dan penghormatan terhadap praktik agama Islam di antara siswa dari berbagai latar belakang agama. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan menghormati perayaan agama yang signifikan, sekaligus mendidik nilai-nilai toleransi dan kebersamaan.
Dalam konteks budaya, kebijakan ini dapat dilihat sebagai bagian dari usaha untuk memperkuat identitas budaya nasional yang menghormati pluralitas agama di Indonesia. Daoed Joesoef, dengan latar belakang pendidikannya di Sorbonne, Perancis, mungkin memiliki perspektif yang lebih global tentang sekularisme dan integrasi agama dalam pendidikan. Namun, di Indonesia, ia harus menyeimbangkan antara sekularisme dan nilai-nilai agama, terutama dalam konteks mayoritas Muslim. Dengan mengintegrasikan Ramadan ke dalam kalender sekolah, ia mungkin berusaha untuk menunjukkan bahwa budaya Islam adalah bagian integral dari identitas nasional.
Dari sudut pandang pertahanan keamanan, memasukkan Ramadan ke dalam kalender pendidikan juga bisa dilihat sebagai strategi untuk menjaga stabilitas sosial. Pada masa Orde Baru, ada kekhawatiran akan aktivitas politik atau agama yang bisa mengganggu ketertiban umum. Dengan mengatur jadwal pendidikan sehingga memasukkan Ramadan, pemerintah bisa mengantisipasi dan mengatur aktivitas publik selama periode ini, mengurangi potensi konflik atau gangguan yang bisa muncul dari perubahan jadwal yang tidak teratur.
Daoed Joesoef sendiri dikenal sebagai seorang yang memiliki pandangan sekuler, namun juga memahami pentingnya agama dalam konteks Indonesia. Latar belakang pendidikannya di Prancis, negeri yang dikenal dengan sekularismenya, mungkin mempengaruhi cara ia melihat integrasi agama dalam kebijakan pendidikan. Namun, ia juga sadar bahwa di Indonesia, agama, terutama Islam, memainkan peran besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan.
Kebijakan ini juga menunjukkan bagaimana Daoed Joesoef mencoba menyeimbangkan antara modernisasi pendidikan dengan tradisi dan nilai-nilai keagamaan. Pada masa jabatannya, ada kecenderungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sambil tetap menghormati nilai-nilai budaya dan agama yang ada. Integrasi Ramadan ke dalam kalender sekolah adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya tentang pengetahuan akademis tetapi juga tentang pembangunan karakter dan moralitas yang berakar pada nilai-nilai lokal.
Selain itu, kebijakan ini bisa menjadi respons terhadap permintaan dari masyarakat Muslim yang ingin agar anak-anak mereka dapat berpartisipasi dalam ibadah Ramadan tanpa harus mengorbankan waktu belajar. Ini menunjukkan sensitivitas pemerintah terhadap kebutuhan agama masyarakat, yang pada gilirannya dapat menguatkan legitimasi pemerintah di mata publik.
Dengan memasukkan Ramadan ke dalam kalender akademik, Daoed Joesoef juga mungkin berusaha untuk menghindari konflik antara waktu belajar dan waktu ibadah. Pada masa itu, banyak siswa mungkin harus memilih antara mengikuti kegiatan sekolah atau berpartisipasi dalam ibadah Ramadan, yang bisa mengakibatkan ketidaknyamanan dan tekanan bagi siswa dan orang tua. Kebijakan ini menawarkan solusi yang memungkinkan keduanya berjalan beriringan.
Akhirnya, kebijakan ini juga mencerminkan upaya untuk memperkuat komitmen pemerintah terhadap pluralisme dan multikulturalisme Indonesia. Dengan mengakui dan mengintegrasikan praktik agama yang signifikan seperti Ramadan ke dalam sistem pendidikan, Daoed Joesoef menegaskan bahwa agama adalah bagian dari kehidupan nasional yang harus dihormati dan diakomodasi dalam semua aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Ini adalah langkah yang cerdas untuk membangun kebanggaan nasional yang inklusif dan harmonis.
Sumber:
- Kebijakan Kontroversial Menteri Daoed Joesoef 1978-1983: Perubahan Tahun Ajaran dan Libur Bulan Ramadhan - Neliti ()
- Sejarah Hidup Daoed Joesoef, Mendikbud yang Pernah Melarang Jilbab - tirto.id ()
- Daoed Joesoef dan Keteguhannya Berkontribusi di Dunia Pendidikan - Kompas.com ()
- Daoed Joesoef Mendikbud Era Soeharto & Larangan Politik di Kampus - tirto.id ()
- Daoed Joesoef, Mendikbud yang Larang Politik Masuk Kampus - www.cnnindonesia.com ()
No comments:
Post a Comment