Tuesday, March 18, 2025

Ramadhan Mubarak : Pentingnya tilawah Al-Qur'an

Tilawah Al-Qur’an selama Ramadan memiliki pentingnya yang sangat besar dalam tradisi Islam, baik dari segi spiritual, keutamaan, maupun hubungan dengan bulan suci ini. Berikut adalah beberapa poin yang menjelaskan pentingnya:

  1. Hubungan Khusus dengan Ramadan: Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar. Oleh karena itu, membaca, merenungkan, dan memahami Al-Qur’an di bulan ini menjadi cara untuk menghormati dan menghidupkan kembali momen bersejarah tersebut.
  2. Pahala yang Berlipat Ganda: Ramadan adalah bulan penuh berkah di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Membaca Al-Qur’an, yang sudah merupakan amalan mulia, menjadi lebih istimewa karena keutamaannya meningkat di bulan ini.
  3. Meningkatkan Ketakwaan: Tilawah Al-Qur’an membantu seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat iman, dan meningkatkan ketakwaan. Di bulan Ramadan, ketika umat Islam berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, membaca Al-Qur’an menjadi sarana untuk menjaga hati dan pikiran tetap fokus pada ibadah.
  4. Meneladani Rasulullah SAW: Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan khusus di bulan Ramadan, yaitu memperbanyak tilawah dan tadarus bersama malaikat Jibril. Setiap Ramadan, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an, sehingga umat Islam didorong untuk mengikuti sunnah ini.
  5. Menemukan Ketenangan Jiwa: Membaca Al-Qur’an membawa ketenangan dan kedamaian batin, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sendiri (QS. Ar-Ra’d: 28). Di tengah kesibukan Ramadan, tilawah menjadi sarana untuk merefleksikan diri dan menjaga keseimbangan spiritual.
  6. Momen Lailatul Qadar: Salah satu malam di bulan Ramadan adalah Lailatul Qadar, yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an di malam-malam Ramadan, terutama di 10 hari terakhir, dapat menjadi jalan untuk mendapatkan keberkahan malam yang agung ini.
Dengan demikian, tilawah Al-Qur’an selama Ramadan bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi merupakan ibadah yang memperkaya jiwa, mendatangkan pahala besar, dan mempererat hubungan seorang hamba dengan Penciptanya. Banyak umat Islam yang memanfaatkan bulan ini untuk mengkhatamkan Al-Qur’an setidaknya sekali, sebagai bentuk komitmen dan cinta terhadap kitab suci mereka. Sumber : Grok

Monday, March 17, 2025

Ramadhan Mubarak : Halalkan dagang, haramkan Riba



Penjelasan rinci mengenai anjuran menghalalkan perdagangan (dagang) dan larangan riba dalam bulan Ramadan, berdasarkan riwayat Al-Qur’an dan hadis, disusun dalam beberapa paragraf:

  1. Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh keberkahan, di mana umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan amal saleh, termasuk dalam aktivitas ekonomi seperti berdagang. Perdagangan yang halal merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat ditekankan dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Ayat ini menjadi landasan bahwa perdagangan yang jujur dan adil adalah cara mencari rezeki yang diridhai Allah, terlebih di bulan Ramadan yang penuh ampunan.
  2. Rasulullah SAW sendiri adalah teladan dalam berdagang dengan cara yang halal dan penuh kejujuran. Sebelum diutus sebagai nabi, beliau dikenal sebagai pedagang yang terpercaya, dijuluki “Al-Amin” (yang dapat dipercaya). Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda: “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada di hari kiamat.” Hal ini menunjukkan betapa mulianya perdagangan yang dilakukan dengan niat baik dan cara yang halal, khususnya di bulan Ramadan sebagai waktu memperbanyak pahala.
  3. Ramadan menjadi momentum untuk membersihkan harta dari hal-hal yang haram, salah satunya riba. Riba adalah praktik yang dilarang keras dalam Islam karena mengandung unsur ketidakadilan dan kezaliman. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengancam pelaku riba dengan hukuman berat: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila” (QS. Al-Baqarah: 275). Larangan ini semakin relevan di bulan Ramadan, saat umat Islam berlomba-lomba menjauhkan diri dari dosa.
  4. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Riba itu terdiri dari tujuh puluh tiga pintu dosa, yang paling ringan darinya seperti seseorang berzina dengan ibunya sendiri.” Hadis ini menegaskan bahwa riba adalah dosa besar yang harus dihindari, terutama di bulan Ramadan, ketika pintu ampunan terbuka lebar dan setan dibelenggu. Menghindari riba di bulan ini adalah wujud taqwa dan upaya mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Perdagangan yang halal di bulan Ramadan juga memiliki keistimewaan karena sering kali dikaitkan dengan niat bersedekah dan membantu sesama. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari: “Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” Pedagang yang menjual kebutuhan pokok dengan harga wajar dan tidak menimbun barang di bulan Ramadan turut mendapatkan keberkahan ini.
  6. Sebaliknya, riba sering kali muncul dalam praktik ekonomi yang tidak sehat, seperti memanfaatkan kesulitan orang lain untuk meraup keuntungan besar. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW melaknat pelaku riba dengan keras: “Rasulullah melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulisnya, dan dua saksinya, lalu beliau bersabda: Mereka semua sama” (HR. Muslim). Ramadan menjadi waktu refleksi untuk meninggalkan praktik riba dan beralih ke perdagangan yang halal.
  7. Salah satu bentuk perdagangan yang dianjurkan di bulan Ramadan adalah memenuhi kebutuhan umat, seperti menyediakan bahan makanan untuk berbuka puasa. Dalam riwayat riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: “Rezeki yang paling baik adalah yang diperoleh dari usaha tangan sendiri.” Ini mendorong umat Islam untuk aktif berdagang dengan cara yang halal, menghindari riba, dan menjadikan Ramadan sebagai ladang amal.
  8. Larangan riba juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Riba sering kali memperparah kesenjangan ekonomi dan menyengsarakan orang miskin, yang bertentangan dengan semangat Ramadan sebagai bulan kepedulian. Allah SWT berfirman: “Dan apa saja yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)” (QS. Ar-Rum: 39). Ayat ini menunjukkan bahwa harta yang diperoleh secara halal dan dibelanjakan di jalan Allah akan dilipatgandakan pahalanya, berbeda dengan riba yang mendatangkan murka.
  9. Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kejujuran dalam berdagang, yang menjadi kunci keberkahan di bulan Ramadan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: “Penjual dan pembeli memiliki hak untuk memilih (meneruskan atau membatalkan transaksi) selama belum berpisah, jika keduanya jujur dan terbuka, maka transaksi mereka diberkahi, tetapi jika mereka menyembunyikan (cacat barang) dan berbohong, maka keberkahan transaksi mereka hilang.” Ini menjadi pedoman bagi pedagang di bulan Ramadan untuk menjauhkan diri dari kecurangan yang serupa dengan riba.
  10. Akhirnya, Ramadan adalah waktu untuk menyucikan harta dan jiwa dari riba serta segala bentuk kezaliman ekonomi. Dengan memperbanyak perdagangan yang halal dan menjauhkan diri dari riba, umat Islam dapat meraih keberkahan dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Tirmidzi: “Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.” Menghindari riba dan memilih jalan perdagangan yang halal di bulan Ramadan adalah wujud ketaatan yang akan membawa kebahagiaan sejati.
Demikian penjelasan rinci tentang anjuran berdagang secara halal dan larangan riba di bulan Ramadan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Semoga menjadi pengingat untuk menjalani ekonomi yang penuh keberkahan di bulan suci ini.

Ramadhan Mubarak : Larangan Makan Minum Berlebihan Berpuasa



Berikut adalah penjelasan tentang larangan makan dan minum berlebihan serta anjuran berpuasa berdasarkan riwayat dan hadis dalam 10 paragraf:

  1. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam makan dan minum. Rasulullah SAW melarang umatnya dari sikap berlebih-lebihan (israf) dalam konsumsi makanan dan minuman. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini menjadi dasar utama bahwa sikap berlebihan dalam hal apapun, termasuk makan, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah.
  2. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara.” Hadis ini menegaskan bahwa makan secukupnya adalah sunnah, dan meninggalkan ruang dalam perut adalah bentuk pengendalian diri yang dianjurkan.
  3. Sikap berlebihan dalam makan dan minum tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga spiritual. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa perut yang terlalu penuh dapat membuat hati menjadi keras dan malas beribadah. Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Janganlah kalian membunuh hati kalian dengan makan dan minum yang berlebihan, karena hati itu seperti tanaman, ia akan mati jika terlalu banyak disiram” (HR. Ahmad). Ini menunjukkan bahwa keseimbangan dalam konsumsi berkaitan erat dengan kepekaan jiwa.
  4. Sebaliknya, Islam menganjurkan puasa sebagai sarana melatih pengendalian diri terhadap hawa nafsu, termasuk nafsu makan. Puasa Ramadan adalah kewajiban yang ditetapkan dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Puasa mengajarkan untuk menahan lapar dan dahaga, sehingga umat Islam belajar bersyukur dan tidak bergantung berlebihan pada makanan.
  5. Rasulullah SAW juga menganjurkan puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Daud, untuk menjaga kesehatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: “Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat.” Puasa tidak hanya membersihkan jiwa, tetapi juga tubuh dari kelebihan zat yang dapat merusak kesehatan akibat makan berlebihan.
  6. Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW pernah menegur seorang sahabat yang terlihat kekenyangan setelah makan. Beliau bersabda: “Jika kalian makan sampai kenyang, maka tidurlah seperti binatang.” Ini menunjukkan bahwa makan berlebihan dapat menurunkan produktivitas dan membuat seseorang kehilangan semangat untuk beribadah atau bekerja, sebagaimana binatang yang hanya makan dan tidur.
  7. Salah satu hikmah puasa adalah melatih kesederhanaan dan empati terhadap orang-orang yang kekurangan. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang kenyang sementara tetangganya lapar, maka ia bukan dari golongan kami.” Puasa mengingatkan umat Islam untuk tidak terjebak dalam pola konsumsi berlebihan, tetapi berbagi dengan yang membutuhkan.
  8. Larangan makan berlebihan juga terkait dengan konsep syukur dalam Islam. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Makanlah apa yang ada di hadapanmu dan bersyukurlah kepada Allah.” Sikap ini mengajarkan untuk menerima rezeki dengan penuh kesadaran dan tidak mengejar kenikmatan duniawi secara berlebihan, yang dapat menjauhkan dari mengingat Allah.
  9. Puasa juga menjadi bentuk perlawanan terhadap godaan setan, yang sering mendorong manusia untuk memanjakan nafsu, termasuk makan dan minum berlebihan. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Setan mengalir dalam tubuh manusia seperti darah mengalir, maka persempitlah jalannya dengan lapar (puasa).” Puasa menjadi tameng yang melindungi dari dorongan nafsu yang tidak terkendali.
  10. Akhirnya, keseimbangan antara makan secukupnya dan berpuasa mencerminkan akhlak mulia seorang Muslim. Rasulullah SAW adalah teladan dalam hal ini; beliau hidup sederhana, sering berpuasa, dan tidak pernah terlihat berlebihan dalam makan. Dalam riwayat Aisyah RA, beliau berkata: “Rasulullah tidak pernah kenyang berturut-turut selama tiga hari hingga beliau wafat” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menjadi pelajaran bahwa sikap zuhud dan pengendalian diri adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Demikian penjelasan tentang larangan makan minum berlebihan dan anjuran berpuasa berdasarkan Al-Qur’an dan hadis. Semoga bermanfaat dalam menjalani kehidupan yang seimbang dan penuh keberkahan.

Temukan P3H

Bismillah   Rekrut Tenaga Pendamping Proses Produk Halal (P3H) Oktober 2025. Persyaratan : Min SMA/SMK, Beragama Islam, dan komitmen. Silak...