Saturday, March 15, 2025

Ramadhan Mubarak : Kesukaan Makanan Minuman Nabi SAW Saat Puasa.

 Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW memberikan teladan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pola makan dan minum saat berpuasa, khususnya pada waktu berbuka puasa di bulan Ramadan. Kesukaan makanan dan minuman Nabi SAW saat berpuasa tidak dijelaskan secara rinci sebagai daftar menu favorit dalam satu hadis tertentu, tetapi ada beberapa riwayat shahih yang menyebutkan jenis makanan dan minuman yang biasa beliau konsumsi atau anjurkan saat berbuka puasa. Pola makan Nabi SAW mencerminkan kesederhanaan, kesucian, dan keberkahan, sesuai dengan kebiasaan hidup beliau yang zuhud dan tidak berlebihan.

Berikut adalah penjelasan tentang kesukaan makanan dan minuman Rasulullah SAW saat puasa, beserta dalil-dalilnya:
1. Kurma (Terutama Kurma Basah atau Ruthab)
Rasulullah SAW sangat menyukai kurma, baik saat berbuka puasa maupun di waktu lain. Kurma menjadi makanan utama yang sering disebutkan dalam hadis sebagai pilihan beliau untuk membatalkan puasa. Ada dua jenis kurma yang disebutkan: kurma basah (ruthab) dan kurma kering (tamr).
  • Dalil:
    "Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW biasa berbuka puasa dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum shalat. Jika tidak ada kurma basah, maka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air.’"
    (HR. Abu Dawud no. 2356, Tirmidzi no. 696, dan dinilai hasan oleh Al-Albani)
  • Penjelasan:
    Kurma basah (ruthab) adalah kurma segar yang masih lembut dan mengandung banyak air, sedangkan kurma kering (tamr) adalah kurma yang sudah matang dan kering. Nabi SAW lebih mengutamakan ruthab karena kandungan gula alaminya yang cepat memberikan energi setelah seharian berpuasa. Jika tidak ada, beliau beralih ke tamr, dan jika keduanya tidak tersedia, beliau cukup minum air. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kesederhanaan beliau.
2. Air
Air adalah minuman yang selalu menjadi bagian dari kebiasaan Rasulullah SAW saat berbuka puasa, terutama jika kurma tidak tersedia. Air juga melambangkan kesucian dan kesederhanaan.
  • Dalil:
    Sebagaimana disebutkan dalam hadis Anas bin Malik di atas:
    "Jika tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air."
    (HR. Abu Dawud no. 2356)
  • Penjelasan:
    Nabi SAW mengajarkan bahwa berbuka dengan air adalah cara sederhana untuk memulai kembali fungsi tubuh setelah puasa. Beliau biasanya minum beberapa teguk secukupnya, tidak berlebihan, sesuai dengan anjuran untuk tidak langsung mengisi perut penuh setelah berpuasa.
3. Susu
Rasulullah SAW juga menyukai susu dan terkadang mengonsumsinya, meskipun tidak ada riwayat spesifik bahwa beliau selalu meminum susu saat berbuka puasa. Namun, susu disebutkan sebagai minuman yang disukai dan diberkahi.
  • Dalil:
    "Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang diberi rezeki susu oleh Allah, hendaklah ia mengucapkan: Allahumma barik lana fihi wa zidna minhu (Ya Allah, berkahilah kami dalam susu ini dan tambahkan lagi untuk kami).’"
    (HR. Tirmidzi no. 3455, dinilai hasan)
  • Penjelasan:
    Meskipun hadis ini tidak menyebutkan susu secara langsung dalam konteks berbuka puasa, susu adalah minuman yang disukai Nabi SAW karena nilai gizinya. Dalam beberapa riwayat lain, beliau pernah meminum susu bersama kurma, menunjukkan kombinasi yang menyehatkan.
4. Makanan Sederhana Setelah Shalat
Setelah berbuka dengan kurma atau air dan melaksanakan shalat Maghrib, Rasulullah SAW biasanya makan makanan sederhana yang tersedia, seperti roti, sup, atau daging jika ada. Beliau tidak menuntut hidangan mewah dan selalu bersyukur dengan apa yang ada.
  • Dalil:
    "Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW pernah meninggalkan dunia ini tanpa pernah kenyang dengan roti dan daging.’"
    (HR. Bukhari no. 5414)
    "Dari Aisyah RA, ia berkata: ‘Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dengan roti gandum selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.’"
    (HR. Bukhari no. 5416 dan Muslim no. 2970)
  • Penjelasan:
    Ini menunjukkan bahwa makanan Nabi SAW saat berbuka atau sahur biasanya sangat sederhana, seperti roti barley, kurma, atau sup dari bahan yang ada. Beliau tidak memiliki kebiasaan memilih makanan tertentu secara khusus, tetapi menerima apa yang disediakan dengan penuh syukur.
Prinsip Umum dalam Makan dan Minum Nabi SAW
Rasulullah SAW mengajarkan kesederhanaan dan keseimbangan dalam makan saat berpuasa, baik saat sahur maupun berbuka. Beliau bersabda:
"Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (ruang kosong di perut)."
(HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349, dinilai hasan)
Prinsip ini diterapkan saat berbuka puasa agar tidak berlebihan, yang juga menjadi teladan bagi umat Islam.
Kesimpulan
Kesukaan makanan dan minuman Rasulullah SAW saat puasa, khususnya saat berbuka, meliputi:
  1. Kurma (terutama ruthab, jika tidak ada maka tamr) – HR. Abu Dawud dan Tirmidzi.
  2. Air – sebagai alternatif sederhana jika kurma tidak ada – HR. Abu Dawud.
  3. Susu – disukai dan diberkahi, meski tidak spesifik untuk berbuka – HR. Tirmidzi.
  4. Makanan sederhana seperti roti atau sup setelah shalat – HR. Bukhari dan Muslim.
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Nabi SAW lebih mengutamakan kesederhanaan, keberkahan, dan manfaat kesehatan dalam memilih makanan dan minuman saat berpuasa. Beliau tidak mengejar kenikmatan duniawi, melainkan fokus pada ibadah dan syukur kepada Allah SWT. Umat Islam dianjurkan mengikuti teladan ini dengan memulai berbuka dengan kurma dan air, lalu melanjutkan dengan makanan secukupnya. Sumber : Grok

Ramadhan Mubarak : Keutamaan Berpuasa Hari Ke-19

Dalam ajaran Islam, puasa Ramadan secara keseluruhan memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, tidak ada dalil spesifik dalam Al-Qur’an atau hadis shahih yang menyebutkan keutamaan khusus untuk hari ke-19 Ramadan secara terpisah dari keutamaan puasa Ramadan secara umum. Setiap hari di bulan Ramadan tetap mulia karena merupakan bagian dari bulan penuh berkah, di mana amal ibadah dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, dan doa-doa dikabulkan. Hari ke-19 Ramadan, sebagai bagian dari 10 hari kedua Ramadan, sering dikaitkan dengan fase maghfirah (pengampunan) dalam tradisi populer, meskipun pembagian fase ini tidak didasarkan pada dalil shahih yang spesifik.

Berikut adalah penjelasan tentang keutamaan berpuasa Ramadan secara umum yang juga berlaku untuk hari ke-19, beserta dalil dan konteksnya:
Keutamaan Puasa Ramadan Secara Umum
  1. Pengampunan Dosa
    Rasulullah SAW bersabda:
    "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
    (HR. Bukhari no. 1910 dan Muslim no. 760)
    Keutamaan ini mencakup hari ke-19 Ramadan, selama puasa dilakukan dengan niat tulus dan kesadaran untuk mencari ridha Allah.
  2. Pahala Berlipat Ganda
    Rasulullah SAW menyampaikan:
    "Setiap amal kebaikan anak Adam dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya langsung.’"
    (HR. Muslim no. 1151)
    Puasa pada hari ke-19 Ramadan termasuk dalam janji pahala istimewa ini, yang ganjarannya ditentukan langsung oleh Allah tanpa batasan tertentu.
  3. Doa Mustajab
    Rasulullah SAW bersabda:
    "Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi."
    (HR. Tirmidzi no. 2526, dinilai hasan)
    Pada hari ke-19 Ramadan, seorang Muslim yang berpuasa memiliki kesempatan besar untuk berdoa, terutama menjelang berbuka, dengan harapan dikabulkan oleh Allah.
  4. Bulan Penuh Berkah
    Rasulullah SAW bersabda:
    "Apabila tiba bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu."
    (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)
    Hari ke-19 Ramadan masih berada dalam suasana berkah ini, memberikan peluang untuk meraih kebaikan dan ampunan.
Konteks Hari ke-19 Ramadan
Hari ke-19 Ramadan tidak dikaitkan dengan peristiwa historis besar dalam sejarah Islam seperti Perang Badar (hari ke-17) atau malam Lailatul Qadar (hari-hari ganjil di 10 hari terakhir, seperti 21, 23, 25, 27, atau 29). Namun, hari ini berada di penghujung 10 hari kedua Ramadan, yang dalam tradisi populer dikaitkan dengan fase maghfirah (pengampunan). Pembagian Ramadan menjadi tiga fase—10 hari rahmat, 10 hari maghfirah, dan 10 hari pembebasan dari api neraka—merupakan interpretasi yang sering disebutkan dalam khutbah atau ceramah, meskipun tidak didukung oleh dalil shahih yang spesifik. Dalam konteks ini, hari ke-19 dapat dilihat sebagai bagian dari waktu untuk memohon ampunan dan memperbaiki diri sebelum memasuki 10 hari terakhir yang lebih intens.
Keutamaan Puasa Hari ke-19 Ramadan
Berdasarkan dalil-dalil umum di atas dan konteksnya, keutamaan berpuasa pada hari ke-19 Ramadan dapat dirangkum sebagai berikut:
  1. Mendapatkan Ampunan Dosa: Sebagai bagian dari fase maghfirah (secara tradisi), hari ke-19 menjadi waktu yang tepat untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
  2. Pahala Istimewa: Puasa pada hari ini tetap mendapat ganjaran langsung dari Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.
  3. Persiapan Menuju 10 Hari Terakhir: Hari ke-19 menjadi momen penting untuk mengevaluasi ibadah selama 18 hari sebelumnya dan mempersiapkan diri memasuki 10 hari terakhir Ramadan, yang puncaknya adalah malam Lailatul Qadar.
  4. Meningkatkan Istiqamah: Berpuasa hingga hari ke-19 menunjukkan konsistensi dalam ibadah, yang merupakan nilai besar dalam Islam.
Kesimpulan
Tidak ada dalil khusus yang menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari ke-19 Ramadan secara terpisah dari hari-hari lain di bulan Ramadan. Keutamaannya tetap tercakup dalam keutamaan umum puasa Ramadan, seperti pengampunan dosa (HR. Bukhari dan Muslim), pahala berlipat (HR. Muslim), dan doa mustajab (HR. Tirmidzi). Sebagai bagian dari 10 hari kedua, hari ke-19 dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak istighfar, tilawah Al-Qur’an, dan doa, sembari mempersiapkan diri menyambut malam-malam penuh berkah di 10 hari terakhir. Dengan demikian, umat Islam dianjurkan untuk menjalani puasa pada hari ini dengan penuh keikhlasan dan harapan akan rahmat serta maghfirah dari Allah SWT.

Temukan P3H

Bismillah   Rekrut Tenaga Pendamping Proses Produk Halal (P3H) Oktober 2025. Persyaratan : Min SMA/SMK, Beragama Islam, dan komitmen. Silak...