Friday, March 14, 2025

Ramadhan Mubarak : Kebiasaan Nabi SAW saat Berpuasa

 

Kebiasaan Nabi SAW saat Berpuasa
  1. Memulai Puasa dengan Niat yang Ikhlas
    Nabi SAW selalu memulai puasa dengan niat karena Allah. Beliau mengajarkan bahwa puasa harus didasari keimanan dan harapan pahala. Dalam hadis disebutkan:
    "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
    (HR. Bukhari No. 1910 dan Muslim No. 760).
    Niat ini biasanya dilakukan di hati pada malam hari sebelum puasa dimulai.
  2. Makan Sahur
    Nabi SAW sangat menganjurkan sahur dan biasanya melakukannya menjelang waktu Subuh. Beliau bersabda:
    "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan."
    (HR. Bukhari No. 1923 dan Muslim No. 1095).
    Beliau sering makan sahur dengan makanan sederhana seperti kurma dan air. Dalam riwayat Anas bin Malik:
    "Nabi SAW biasa makan sahur dengan beberapa butir kurma sebelum menunaikan sholat Subuh."
    (HR. Abu Daud No. 2345, dinilai sahih).
  3. Menyegerakan Berbuka
    Nabi SAW selalu menyegerakan berbuka begitu waktu Magrib tiba. Beliau bersabda:
    "Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."
    (HR. Bukhari No. 1957 dan Muslim No. 1098).
    Beliau biasanya berbuka dengan kurma segar (rutab) atau kurma kering (tamr) jika ada, lalu minum air. Jika tidak ada kurma, beliau berbuka dengan air saja. Anas bin Malik meriwayatkan:
    "Rasulullah SAW biasa berbuka dengan beberapa butir kurma segar sebelum sholat (Magrib), jika tidak ada, maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada, beliau meminum beberapa teguk air."
    (HR. Abu Daud No. 2356, dinilai hasan).
  4. Berdoa saat Berbuka
    Nabi SAW sering membaca doa saat berbuka puasa. Salah satu doa yang diriwayatkan adalah:
    "Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaAllah."
    (Artinya: "Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insyaAllah.")
    (HR. Abu Daud No. 2357, dinilai hasan).
  5. Menjaga Lisan dan Perilaku
    Nabi SAW selalu menjaga sikap selama berpuasa. Beliau mengajarkan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan buruk. Beliau bersabda:
    "Puasa adalah perisai, maka janganlah seseorang berbicara kotor atau bertindak bodoh. Jika ada orang yang memeranginya atau mencacinya, hendaklah ia berkata: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.'"
    (HR. Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151).
  6. Memperbanyak Ibadah
    Selama Ramadan, Nabi SAW meningkatkan ibadahnya. Beliau sering membaca Al-Qur’an, berzikir, dan sholat malam. Aisyah RA berkata:
    "Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan Ramadan melebihi kesungguhannya di bulan lain."
    (HR. Bukhari No. 2024 dan Muslim No. 1178).
    Beliau juga biasa melakukan i’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadan untuk fokus beribadah.
  7. Puasa Sunnah di Luar Ramadan
    Selain puasa Ramadan, Nabi SAW memiliki kebiasaan berpuasa sunnah, seperti:
    • Puasa Senin dan Kamis: Beliau bersabda:
      "Amal-amal manusia diperiksa pada hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amalku diperiksa dalam keadaan aku sedang berpuasa."
      (HR. Tirmidzi No. 747, dinilai hasan).
    • Puasa Hari Arafah (9 Dzulhijjah):
      "Puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."
      (HR. Muslim No. 1162).
    • Puasa Asyura (10 Muharram) dan hari-hari di sekitarnya.
  8. Kesederhanaan dalam Makanan
    Nabi SAW tidak berlebihan dalam makan, baik saat sahur maupun berbuka. Hidangan beliau biasanya sederhana, seperti kurma, air, roti, atau sup. Ini mencerminkan sikap zuhud beliau meskipun sedang tidak berpuasa.
  9. Menganjurkan Sedekah
    Nabi SAW sangat dermawan selama Ramadan. Ibnu Abbas RA berkata:
    "Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Beliau seperti angin yang berhembus (dalam kedermawanannya)."
    (HR. Bukhari No. 6 dan Muslim No. 2308).
Kesimpulan
Kebiasaan Nabi SAW saat berpuasa mencerminkan keseimbangan antara ibadah fisik dan spiritual. Beliau menekankan niat yang ikhlas, makan sahur, menyegerakan berbuka, menjaga perilaku, dan memperbanyak ibadah. Pola ini tidak hanya terbatas pada Ramadan, tetapi juga terlihat dalam puasa sunnah beliau sepanjang tahun. Sumber : Grok

Ramadhan Mubarak : Keutamaan Berpuasa Hari Ke-17

 

Klik : https://youtu.be/OJ92A2D2urE?si=att3EQn8sWdP08Mn
Keutamaan Berpuasa pada Hari ke-17 Ramadan
Hari ke-17 Ramadan berada di fase pertengahan menuju akhir bulan, tepat di ambang 10 hari terakhir yang penuh keistimewaan. Dalam tradisi Islam, hari ke-17 juga memiliki makna historis karena sering dikaitkan dengan peristiwa Perang Badar (terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah), meskipun fokus utama tetap pada ibadah puasa. Berikut keutamaannya:
  1. Pengampunan Dosa
    Puasa Ramadan, termasuk pada hari ke-17, menjanjikan pengampunan dosa bagi yang melakukannya dengan iman dan harapan pahala. Rasulullah SAW bersabda:
    "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
    (HR. Bukhari No. 1910 dan Muslim No. 760).
    Keutamaan ini berlaku setiap hari, termasuk hari ke-17, selama niatnya ikhlas.
  2. Pahala yang Dilipatgandakan
    Puasa adalah ibadah istimewa yang pahalanya langsung diberikan oleh Allah tanpa batas. Rasulullah SAW bersabda:
    "Allah berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."
    (HR. Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151).
    Pada hari ke-17, setelah lebih dari separuh bulan berpuasa, ibadah ini menjadi bukti ketekunan yang mendatangkan pahala besar.
  3. Persiapan Menuju Lailatul Qadar
    Hari ke-17 adalah langkah terakhir sebelum memasuki 10 hari terakhir Ramadan, yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar. Rasulullah SAW bersabda:
    "Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan."
    (HR. Bukhari No. 2017).
    Hari ke-17 menjadi waktu untuk memperkuat ibadah seperti sholat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa sebagai persiapan menyambut malam istimewa tersebut.
  4. Puasa sebagai Perisai
    Puasa melindungi dari dosa dan godaan. Rasulullah SAW bersabda:
    "Puasa adalah perisai, maka janganlah seseorang berbicara kotor atau bertindak bodoh..."
    (HR. Bukhari No. 1894 dan Muslim No. 1151).
    Pada hari ke-17, setelah lebih dari dua minggu berpuasa, seorang Muslim biasanya semakin terlatih dalam mengendalikan diri, menjadikan puasa sebagai benteng spiritual.
  5. Konteks Historis: Perang Badar
    Dalam sejarah Islam, hari ke-17 Ramadan di tahun ke-2 Hijriah adalah hari terjadinya Perang Badar, kemenangan besar pertama umat Islam melawan kaum Quraisy. Meskipun ini bukan keutamaan puasa secara langsung, hari ini sering diperingati sebagai simbol kemenangan keimanan dan kesabaran. Al-Qur’an menyebutkan peristiwa ini dalam Surah Al-Anfal (8:41), yang menguatkan makna keimanan di bulan Ramadan.
  6. Hari Senin atau Kamis
    Jika hari ke-17 Ramadan jatuh pada hari Senin atau Kamis, ada tambahan keutamaan berdasarkan sunnah puasa pada hari tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
    "Amal-amal manusia diperiksa pada hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amalku diperiksa dalam keadaan aku sedang berpuasa."
    (HR. Tirmidzi No. 747, dinilai hasan).
    Untuk Ramadan 2025, hari ke-17 mungkin jatuh sekitar 20-21 Maret (tergantung awal Ramadan), dan saya bisa cek lebih lanjut jika Anda ingin konfirmasi.
Catatan Khusus Hari ke-17
Meskipun tidak ada hadis yang secara spesifik menyebutkan keutamaan puasa hanya pada hari ke-17, hari ini tetap istimewa karena posisinya dalam Ramadan dan konteks historisnya. Dalam tradisi beberapa Muslim, hari ke-17 dijadikan momen untuk merenungkan kemenangan iman dan memperbanyak doa agar diberi kekuatan seperti para sahabat di Perang Badar.
Kesimpulan
Keutamaan berpuasa pada hari ke-17 Ramadan meliputi pengampunan dosa, pahala yang tak terukur, perlindungan dari dosa, serta persiapan menuju Lailatul Qadar, dengan tambahan makna historis dari Perang Badar. Hadis-hadis di atas adalah landasan utama yang berlaku untuk setiap hari puasa Ramadan, termasuk hari ke-17. Sumber : Grok

Temukan P3H

Bismillah   Rekrut Tenaga Pendamping Proses Produk Halal (P3H) Oktober 2025. Persyaratan : Min SMA/SMK, Beragama Islam, dan komitmen. Silak...