Lebaran Ketupat adalah tradisi yang dirayakan oleh masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia, termasuk oleh suku Betawi di Jakarta, sebagai bagian dari perayaan Idul Fitri atau setelahnya. Untuk memahami sejarah perkembangan Lebaran Ketupat Betawi secara rinci, kita perlu melihat asal-usul ketupat itu sendiri, pengaruh budaya Islam yang masuk ke Nusantara, serta bagaimana tradisi ini berkembang khusus di kalangan masyarakat Betawi.
Asal-Usul Ketupat dan Pengaruh Awal
Ketupat, sebagai makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur), memiliki akar yang lebih tua dari masuknya Islam ke Nusantara. Sebelum Islam menyebar luas, ketupat sudah dikenal di kalangan masyarakat agraris di Jawa dan daerah lain sebagai bagian dari tradisi selametan atau ritual syukuran, terutama untuk menghormati Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran dalam kepercayaan Hindu-Buddha. Bentuknya yang khas dan proses pembuatannya yang melibatkan anyaman janur mencerminkan keterampilan serta simbolisme budaya lokal.
Ketika Islam masuk ke Nusantara sekitar abad ke-13 hingga ke-15, khususnya melalui Kerajaan Demak di Jawa, tradisi lokal seperti ketupat mulai diadaptasi ke dalam praktik keagamaan Islam. Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar Islam di Jawa, memainkan peran besar dalam proses akulturasi ini. Ia memperkenalkan konsep "Bakda Lebaran" (setelah Idul Fitri) dan "Bakda Kupat" (Lebaran Ketupat) sebagai cara untuk mengintegrasikan budaya lokal dengan ajaran Islam. Lebaran Ketupat, yang biasanya dirayakan pada tanggal 8 Syawal setelah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, menjadi simbol penyempurnaan ibadah puasa dan momen silaturahmi serta saling memaafkan.
Perkembangan di Kalangan Betawi
Suku Betawi, sebagai penduduk asli Jakarta, merupakan hasil percampuran berbagai etnis seperti Melayu, Jawa, Sunda, Arab, Tionghoa, dan lainnya, yang membentuk identitas budaya yang khas. Ketika Islam menjadi agama mayoritas di wilayah pesisir seperti Jakarta pada masa Kesultanan Demak dan setelahnya, tradisi Lebaran Ketupat juga diadopsi oleh masyarakat Betawi dengan penyesuaian lokal.
Di kalangan Betawi, Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial dan kebersamaan. Tradisi ini biasanya dirayakan setelah Idul Fitri, sering kali pada hari ketujuh atau kedelapan bulan Syawal, sejalan dengan tradisi Jawa yang dipengaruhi Sunan Kalijaga. Namun, Betawi memiliki cara tersendiri dalam merayakannya, yang dipadukan dengan kuliner dan adat istiadat khas mereka.
Proses dan Pelaksanaan Tradisi Betawi
Dalam tradisi Betawi, persiapan Lebaran Ketupat dimulai beberapa hari sebelumnya. Masyarakat Betawi biasanya membuat ketupat dengan menganyam janur menjadi bentuk khas, kemudian mengisinya dengan beras dan merebusnya hingga matang. Ketupat ini disajikan bersama hidangan khas Betawi seperti sayur sambel godok (sayuran dengan kuah santan dan bumbu khas), semur daging, opor ayam, atau ketupat sayur dengan kuah santan yang kaya rempah. Hidangan ini sering dilengkapi dengan sambal goreng kentang, rendang, atau makanan manis seperti dodol Betawi dan tape uli.
Lebaran Ketupat Betawi juga menjadi momen silaturahmi yang kuat. Setelah Idul Fitri, masyarakat Betawi biasanya melanjutkan tradisi berkunjung ke rumah tetangga, saudara, atau kerabat untuk saling berbagi makanan, termasuk ketupat. Ada pula kebiasaan "nyorog," yaitu mengirimkan rantang berisi makanan kepada tetangga atau keluarga sebagai tanda keakraban dan berbagi kebahagiaan. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial dalam komunitas Betawi.
Selain itu, di beberapa kampung Betawi, Lebaran Ketupat dirayakan dengan acara makan bersama di masjid atau mushola setempat, mirip dengan tradisi "bancakan" di Jawa. Setiap keluarga membawa ketupat dan lauk-pauk untuk disantap bersama, diiringi doa dan syukuran. Hal ini menunjukkan bahwa Lebaran Ketupat tidak hanya tentang makanan, tetapi juga tentang kebersamaan dan nilai spiritual.
Makna Filosofis dalam Konteks Betawi
Dalam tradisi Betawi, ketupat memiliki makna yang serupa dengan filosofi Jawa, seperti "ngaku lepat" (mengakui kesalahan) dan simbol kesucian (dari warna putih ketupat saat dibelah). Namun, Betawi menambahkan nuansa lokal dalam interpretasinya. Anyaman janur yang rumit melambangkan kerumitan hidup dan hubungan antarmanusia yang harus dijaga dengan harmoni. Proses pembuatan ketupat yang dilakukan bersama keluarga juga mencerminkan kerja sama dan gotong royong, nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Betawi.
Di sisi lain, Lebaran Ketupat Betawi juga menjadi penutup rangkaian perayaan Idul Fitri yang panjang. Masyarakat Betawi dikenal merayakan Lebaran hingga satu minggu atau lebih, bahkan sampai pekan ketiga Syawal dalam beberapa kasus, seperti yang tercatat dalam tradisi "Lebaran Betawi" modern. Ini menunjukkan bahwa Lebaran Ketupat adalah bagian integral dari perayaan yang lebih luas, yang menggabungkan unsur keagamaan, kuliner, dan budaya.
Perkembangan Modern dan Pelestarian
Seiring waktu, tradisi Lebaran Ketupat Betawi tetap bertahan meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan urbanisasi di Jakarta. Pada masa lalu, tradisi ini lebih kental dengan nuansa kampung dan kebersamaan antarwarga. Namun, dengan perkembangan kota dan perubahan gaya hidup, beberapa aspek tradisi mulai memudar, seperti pembuatan ketupat secara manual yang kini sering digantikan dengan ketupat instan.
Untuk melestarikan budaya ini, sejak tahun 2008, masyarakat Betawi bersama Pemerintah DKI Jakarta mengadakan acara "Lebaran Betawi" setiap tahun (meskipun sempat terhenti pada masa pandemi 2020-2021). Acara ini biasanya digelar setelah Idul Fitri, sering kali pada bulan Syawal, dan menampilkan berbagai elemen budaya Betawi, termasuk kuliner seperti ketupat, pertunjukan seni seperti lenong dan gambang kromong, serta pameran tradisi. Lebaran Ketupat menjadi salah satu highlight dalam acara ini, mengingatkan generasi muda akan warisan leluhur mereka.
Kesimpulan
Sejarah perkembangan Lebaran Ketupat Betawi adalah perpaduan antara tradisi pra-Islam yang diadaptasi oleh ajaran Islam melalui peran tokoh seperti Sunan Kalijaga, dan kemudian diperkaya dengan identitas lokal Betawi. Dari sekadar makanan ritual, ketupat berkembang menjadi simbol spiritual dan sosial dalam perayaan Idul Fitri di kalangan Betawi. Tradisi ini terus hidup melalui praktik kuliner, silaturahmi, dan upaya pelestarian budaya, meskipun terus beradaptasi dengan dinamika zaman. Lebaran Ketupat Betawi tidak hanya tentang menyantap ketupat, tetapi juga tentang mempererat tali persaudaraan, mengakui kesalahan, dan mensyukuri nikmat kebersamaan.
source : https://kiaton.kontan.co.id/news/kapan-lebaran-ketupat-2024-ini-sejarah-dan-maknanya-bagi-masyarakat-jawa, Grok